Ini bukan kali pertamanya Aku meninggalkan rumah, namun entah rasa apa yang ada dalam hati ini. Rasa yang susah dijelaskan dan diungkapkan dengan kata-kata.
Sebelumnya Aku memutuskan hijrah dari Indonesia tercinta 2 minggu yang lalu dengan tujuan Sydney sebagai pilihan Kota pertama, resign dari pekerja kantoran dan meninggalkan semua orang terkasih dan pergi seorang diri untuk pertama kalinya keluar negeri dalam menjalani hari-hari sebagai Working and Holiday Visa holder (untuk yang ingin lebih tahu apa itu programnya, tanya mbah gugel aja ya searching aja WHV). Entah ini pilihan yang tepat atau engga yang jelas sekarang Tuhan mengarahkan dan mendekatkanku dalam memeluk mimpi-mimpi ini dengan berbagai macam drama berepisode yang seakan tak ada ujungnya.
Sebelumnya Aku memutuskan hijrah dari Indonesia tercinta 2 minggu yang lalu dengan tujuan Sydney sebagai pilihan Kota pertama, resign dari pekerja kantoran dan meninggalkan semua orang terkasih dan pergi seorang diri untuk pertama kalinya keluar negeri dalam menjalani hari-hari sebagai Working and Holiday Visa holder (untuk yang ingin lebih tahu apa itu programnya, tanya mbah gugel aja ya searching aja WHV). Entah ini pilihan yang tepat atau engga yang jelas sekarang Tuhan mengarahkan dan mendekatkanku dalam memeluk mimpi-mimpi ini dengan berbagai macam drama berepisode yang seakan tak ada ujungnya.
Kadang rencana Tuhan ini memang lucu ya dan asik juga kalau dinikmati dan disyukuri kalo dipikir-pikir lagi. Seharusnya hijrah ku ke Sydney ini membuat hatiku berbunga-bunga yekan, ini mimpiku dari jaman kicik bisa merasakan hidup di diluar negeri. Tapi apa? ada perasaan yang entah bagaimana harus menjelaskannya. hampir 2 minggu bermukim di Kota yang sibuk dan multikultural ini ada sesuatu yang seolah-olah susah dideskripsikan. Seperti barang bawaan yang hanya kubiarkan dalam koper dan beberapa baju-baju yang masih terlipat rapi dalam wrap bag. Seolah-olah mereka sangat enggan untuk Ku susun di lemari. Sampai room mate-ku juga heran dengan lontaran pertanyaan, "itu baju-bajunya gak disusun di lemari?". Aku hanya senyum gak jelas menanggapi pertanyaannya. Bingung juga awak kenapa gak langsung rapi-rapi barang bawaan padahal udah hampir 2 minggu. Oh hari ini baru terjawab ternyata Tuhan punya arah dan tujuan lain, Sydney 2 minggu pertama memang tidak menawarkan keberuntungan untukku.
Bermukin 2 Minggu di Sydney dengan hati yang harap-harap cemas (mengingat keuangan yang semakin menipis) membuat Aku tidak terlalu fokus dan menikmati keindahan alam disisi lain Sydney. Saat-saat genting dan mulai hilang harapan seperti ini, kalau bukan mengadu kepada Tuhan Yang Maha Tahu segalanya kepada lagi Aku harus berharap? Ya hanya doa-doa panjang yang mampu Ku panjatkan disetiap sujud. Berharap entah dari siapa Tuhan menggerakkannya.
Singkat cerita ada teman yang menawarkan ikut ke Ayr Queensland, setelah pikir-pikir dan minta petunjuk-Nya. Selasa ditawarin ikut, Rabunya langsung ketemuan beli tiket dan Kamis pagi langsung packing barang-barang yang masih rapi dalam koper buat ngejar flight jam 15.00. Oh, ternyata ini jawaban kegelisahan yang sudah Aku rasakan 2 minggu ini. Plan yang sudah disusun sedemikian rupa berputar arah sesuai kehendak-Nya. Setengah hati itu mungkin memang ada di Kota Ayr sana. Kota yang memanggil-manggil dan bikin gelisah, seperti apa dia? Akankan menawarkan kebahagiaan atau hanya harapan? Entahlah, Aku hanya ingin mengejar sepotong hati itu. sekian~
Bermukin 2 Minggu di Sydney dengan hati yang harap-harap cemas (mengingat keuangan yang semakin menipis) membuat Aku tidak terlalu fokus dan menikmati keindahan alam disisi lain Sydney. Saat-saat genting dan mulai hilang harapan seperti ini, kalau bukan mengadu kepada Tuhan Yang Maha Tahu segalanya kepada lagi Aku harus berharap? Ya hanya doa-doa panjang yang mampu Ku panjatkan disetiap sujud. Berharap entah dari siapa Tuhan menggerakkannya.
Singkat cerita ada teman yang menawarkan ikut ke Ayr Queensland, setelah pikir-pikir dan minta petunjuk-Nya. Selasa ditawarin ikut, Rabunya langsung ketemuan beli tiket dan Kamis pagi langsung packing barang-barang yang masih rapi dalam koper buat ngejar flight jam 15.00. Oh, ternyata ini jawaban kegelisahan yang sudah Aku rasakan 2 minggu ini. Plan yang sudah disusun sedemikian rupa berputar arah sesuai kehendak-Nya. Setengah hati itu mungkin memang ada di Kota Ayr sana. Kota yang memanggil-manggil dan bikin gelisah, seperti apa dia? Akankan menawarkan kebahagiaan atau hanya harapan? Entahlah, Aku hanya ingin mengejar sepotong hati itu. sekian~
Hari ini Kamis 19 Juli 2018, jam 15.00 diatas pesawat Jetstar yang akan membawaku ke Cairns Kota yang berada di Utara Benua Australia, Queensland.
